Profil Konsorsium

Konsorsium Dian Tama merupakan pelaksana program dari dana yang diterima melalui perjanjian hibah, program hibah Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat (PSDA BM), Green Prosperity Project (Proyek Kemakmuran Hijau), Millenium Challenge Account Indonesia (MCA-Indonesia).

Konsorsium Dian Tama merupakan gabungan dari 7 lembaga, yang terdiri dari:

  • Yayasan Dian Tama (YDT)sebagai leader;
  • Yayasan Riak Bumi ( YRB);
  • Yayasan WWF Indonesia;
  • Lembaga Pengkajian dan Studi Arus InformasiRegional (LPS-AIR);
  • Komunitas Pariwisata Kapuas Hulu (KOMPAKH);
  • Perkumpulan KABAN;
  • Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS).

Tema yang diusung dalam proyek ini adalah “Pengelolaaan Sumber Daya Alam  Hutan Rawa Gambut dan Pemanfaatan Energi Terbarukan Untuk Meningkatkan Produktivitas Produk Unggulan Masyarakat di Kabupaten Kapuas Hulu”.

Kawasan kerja proyek merupakan bagian dari daerah tangkapan air DAS Kapuas dan Sub-DAS Leboyan/labian. Daerah tangkapan ini dinamai upper Kapuas Basin. Hutan rawa memiliki 3 tipe, yaitu hutan rawa tinggi (tall), hutan rawa rendah (stunted) dan hutan rawa kerdil (dwaft).

Lokasi proyek dilaksanakan di 5 sub sentra, yang tersebar di 20 desa, 7 kecamatan, yang terdiri dari kecamatan Selimbau, Jongkong, Batang Lupar, Suhaid, Badau, Bunut Hilir dan kecamatan Embaloh Hilir, yang didalamnya terdapat kawasan hutan rawa gambut, area kerja periau dan nelayan serta wilayah kelola ekowisata.

Proyek ini melanjutkan apa yang telah dicapai oleh proyek Pengembangan Madu Hutan Organis Kapuas Hulu yang dilaksanakan oleh AOI dengan dukungan (TFCA) Kalimantan, yaitu terdiri dari 39 periau (organisasi tradisional pemanen madu hutan), beranggotakan sekitar 900 orang, yang telah menerapkan teknik panen lestari dan berpotensi menghasilkan 75 ton madu hutan pertahunnya.

Periau periau tersebut telah mengorganisasikan diri menjadi lima sub sentra yang berbadan hukum koperasi dan menerapkan Internal Control System (ICS) untuk penjaminan mutu internal. Kemudian, kelima sub sentra telah membentuk Pusat Koperasi Madu Hutan Kapuas Hulu sebagai Sentra untuk memasarkan produk olahannya.

Selain itu, terdapat juga lima kelompok perempuan dari masing-masing sub sentra tersebut, serta Tiga kelompok ekowisata yang berada dalam satu jalur sungani dengan salah satu sub sentra di DAS Labian Leboyan.

Terdapat lima kajian yang menjadi konsentrasi sekaligus perhatian utama dalam proyek yang dikelola oleh Konsorsium Dian Tama. Pertama, kajian berkenaan dengan Knowledge Managemen atau pengetahuan, dimana pengetahuan harus terkelola, terdokumentasi, terdistribusi, terpublikasi, terwariskan, dan bisa dipergunakan oleh orang lain. Kajian kedua adalah Social and Gender Integration Plan (SGIP) atau Rencana Integrasi Sosial dan Gender guna memastikan integrasi sosial dan gender kedalam semua proyek dan kegiatan. Kajian ketiga berkenaan dengan Landscape Lifescape and Analisis (LLA), yakni kajian bentangan alam dan kehidupan bermasyarakat sebagai dampak dari adanya proyek kemakmuran hijau. Kajian ke empat dalah Environmental and Social Management System (ESMS), berupa kajian manajemen pengelolaan lingkungan dan sosial kemasyarakatan sebagai dampak di laksanakan nya proyek kemakmuran hijau di sub sentra, apakah berpotensi konflik, berdampak negatif dan berbagai hal lain yang berhubungan dengan kehidupan sosial bernasyarakat. Kajian kelima berhubungan dengan pemanfaatan energi terbarukan atau Reneweble Energy (RE), berkenaan dengan pembangunan rumah produksi, apakah di mungkinkan untuk pemanfaatan energi terbarukan sebagai sumber pembangkit listriknya. Dari hal tersebut, MCC melalui MCA-Indonesia menghendaki pemanfaatan energi terbarukan untuk menghindari buangan emisi sebagai akibat proses produksi dan supaya sumber energi tetap ada, sehingga segala sumber daya yang ada di sekitar nya tetap terjaga.

Berkenaan dengan lima hal diatas, maka kegiatan utama dari proyek ini yakni: peningkatan Produktivitas HHBK dan Jasa Lingkungan berkelanjutan melalui intervensi pengembangan madu, perikanan dan ekowisata. Selanjutnya terkait perbaikan praktik PSDA melalui penguatan kelembagaan masyarakat dalam pencegahan kebakaran hutan, penanaman, pengelolaan pengetahuan, pencegahan alih fungsi lahan. Kemudian berkenaan dengan Perbaikan Praktik penggunaan lahan dengan mengembangkan pengelolaan pengetahuan tentang energi terbarukan, peningkatan produktivitas produk unggulan, pengelolaan destinasi ekowisata dan proteksi serta pencegahan kebakaran  hutan. Penyediaan Energy Terbarukan Berbasis Masyarakat untuk mengurangi tingkat ketergantungan masyarakat terhadap BBM.

Sehingga Goll dari proyek, mengelola sumber daya hutan rawa gambut untuk meningkatkan produktivitas melalui peningkatan nilai-tambah produk unggulan masyarakatdengan indikator peningkatan produktivitas sebesar 30% pada akhir proyek dan pertumbuhannya sebesar 10% per tahun. Selanjutnya pemanfaatan energi terbarukan dengan indikator Penghematan BBM sebanyak 0.5 liter per kg produk olahan dan pemanfaatan energi terbarukan sebesar 240 – 480 KWH/hari. Kemudian yang terakhir praktek pencegahan kebakaran hutan/lahan gambut dengan Indikator penurunan jumlah luas hutan terbakar per tahun di wilayah itu sehingga mendekati nol.

Berdasarkan goll/capaian dari tujuan yang diharapkan dari proyek tersebut, maka dengan adanya Proyek Green prosperity/proyek kemakmuran huijau, maka kontribusi dari pencapaian tujuan yakni: 1) Peningkatan produktivitas produk dan usaha masyarakat; 2) Pengurangan tingkat ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan 3) Peningkatan keberlanjutan Sumber Daya Alam.