Ketangguhan Perempuan-Perempuan dari Uncak Kapuas

0
171
Bu' Rizawati ketika sedang mengecek kurupuk yang sedang ia rebus

Kapuas Hulu, swaraperiau.com – Matahari tampak berdiri tegak di atas kepala. Deruan mesin berkapasitas 25 Pk dari speedboat  yang kami naiki meramaikan suasana perkampungan nelayan Semangit yang berada di kawasan Danau Sentarum ini. Riakan air dari speedboat yang melaju menyapa tambak-tambak ikan dan beberapa lanting milik nelayan yang berjejer menyusuri Sungai Leboyan, kampong Semangit, Desa Leboyan, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Rabu (01/11).

Tampak dari kejauhan tiga orang anak tengah asik bermain di atas tambak ikan berukuran sekitar 4 m x 1,5 m. Satu orang diantaranya memakai baju bewarna hitam, tengah asik menarik-narik benang dari layangan yang melambai-lambai ke arah kami. Laju speedboat  mulai melambat merapat di salah satu sisi dari tambak tempat tiga anak itu berada. Motoris dari speedboat  yang kami naiki dengan sigap meloncat ke arah tambak, dengan seketika ia menarik tali pengikat speedboat kemudian mengikatkannya ke salah satu lantai tambak. Saya bersama dua orang dari tim jurnalis trip, pada Proyek Kemakmuran Hijau, MCA-Indonesia, Konsorsium Dian Tama, turun bergantian dari speedboat. Dua speedboat lainnya yang juga merupakan rombongan dari tim jurnalis trip ikut merapat kemudian ikut menambatkan tali pengikat speedboat.

Suasana perkampungan Nelayan Semangit. Doc: Asmadi

Tak lama, dua orang laki-laki paruh baya dan seorang perempuan yang sedang menggendong anaknya datang menghampiri, sambil tersenyum hangat menyambut kedatangan kami. “Masih kenal tidak pak dengan saya,” tanya ku kepada salah satu laki-laki bertelanjang dada, berkulit coklat dengan rambut yang kian memutih. “Siapa ya ?,” ucap nya membalas pertanyaan ku, sambil menatap ke arah ku dan dibarengi dengan senyumannya yang khas. “Saya bersama teman-teman lainnya yang pada bulan Desember tahun lalu, pernah datang ke sini,” ujar ku pada nya. Ia pun menepuk pundak ku sambil berkata, oh…rupanya kamu nak, bapak kira siapa tadi. “Sini-sini, kita ngobrol dulu,” tuturnya dengan hangat.

Tiga orang anak, tampak tengah asik bermain di atas Tambak Ikan. Doc: Asmadi/Tim Jurnalis Trip

Ia pun mulai bercerita, menceritakan tentang kondisi kehidupannya yang pasang-surut karena tikung miliknya sampai sekarang belum juga dihinggapi oleh lebah, pada hal bila telah memasuki akhir bulan September, waktunya lebah-lebah madu hutan (apis dorsata) hinggap dan bersarang. Bila telah memasuki awal bulan Desember lebah madu di tikung, secara serempak sudah bisa dipanen.

“Kawan-kawan, kita berhentinya bukan di sini, tapi di rumah Pak Uge,” ucap Fathul Birri, koordinator tim jurnalis trip. Seketika perhatian ku teralihkan pada suara tersebut. Terpaksa obrolan singkat ku dengan nya, ku sudahi. “Baiklah pak, sepertinya obrolan nya kita sudahi dulu, soalnya aku bagian dari rombongan, jadi mesti ikut rombongan juga,” ucap ku pada laki-laki bercelana pendek yang rumahnya berseblahan dengan rumah tempat kami ngobrol.

“Yok lah kita ke rumah Pak Uge,” ucap beberapa orang dari tim yang ikut jurnalis trip. “Ayok,” sahut beberapa orang lainnya. Beberapa saat kemudian kami pun pamitan pergi ke rumah Pak Uge yang berada di seberang sungai dari tempat pertama kami menambatkan speedboat. Jaraknya tidak begitu jauh, bila dipandang ke arah rumah, masih keliatan atap rumahnya yang bewarna biru, walau dilihat dengan mata telanjang sekalipun.

Sesampainya di rumah Pak Uge, panggilan akrab Basriwadi, selaku Presiden Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS), sama seperti sebelumnya, kami disambut dengan hangat. Irwan Kurniawan selaku Koordinator KM pada konsorsium Dian Tama, beserta tiga orang lainnya telah lebih dahulu tiba sebelum kami, karena memang ia yang meminta kami untuk segera menyusul ke rumah Pak Uge.

Karena waktu kami tidak begitu panjang untuk tetap berada di sana, tak beberapa lama setelah kedatangan kami, beberapa orang mengajukan usul agar tujuan awal kami datang ke sana untuk segera dilaksanakan. Semua pun setuju atas usul tersebut. Beberapa orang mulai memisahakan diri, kemudian mulai menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk menggali informasi sebagaimana layaknya seorang wartawan, seperti kamera, pen, buku catatan, dan alat-alat lainnya.

Pembagian tim disesuaikan dengan kesepakatan awal yang telah disepakati bersama pada hari sebelumya, bahwa tim akan dibagi menjadi 2, yakni tim ikan dan tim madu. Tim ikan yang dipandu oleh Pak Uge, mulai bergerak menuju tempat yang telah ditentukan sebelumnya, yakni melihat bagaimana proses kerupuk  ikan oleh kelompok perempuan nelayan dibuat. Sedangkan untuk kelompok madu, menunggu kelompok ikan selesai terlebih dahulu, karena tujuan selanjutnya berada di lokasi yang berbeda. Tidak mau menyia-nyiakan waktu yang ada, walaupun aku termasuk ke dalam tim madu, tetapi aku tetap ikut bersama rombongan ikan. “Dari pada aku bersantai, lumayan juga kalau dapat beberapa informasi,” gumam ku.

Tak beberapa lama, kami pun sampai di rumah yang di tuju. Namanya Lizawati, akrab dipanggil Bu’ Isa. Ia adalah salah satu anggota dari kelompok perempuan nelayan pembuat kerupuk ikan khas Putussibau. Selain madu, kerupuk ikan khas Putussibau merupakan salah satu produk olahan unggulan yang banyak diminati. Termasuklah aku, paling doyan kalau yang namanya ngemil kerupuk, apa lagi kerupuk ikan khas Putussibau, selain rasanya enak, juga punya gizi yang tinggi.

“Ini merupakan usaha pribadi, jualnya di jual bebas, biasanya dijual ke Sintang, Selimbau, kadang juga ke Lanjak, tidak juga tentu. Untuk hasil cukuplah,” tutur wanita yang hingga kini hampir 11 tahun menekuni usaha membuat kerupuk ikan ini.

Kerupuk ikan yang dibuat oleh para Ibu-Ibu di semangit ini, dari penuturan Bu’ Isa biasanya terdapat dua ukuran, ada yang berukuran kecil, ada juga yang berukuran besar. “Ukuran kecil beratnya 1 kg dan untuk ukuran besar beratnya 2 kg,” ucap Bu’ Isa, perempuan 34 tahun ini.

Ditanyai mengenai jenis ikan yang digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan kerupuk, ia menuturkan bahwa ikan yang digunakan diantaranya adalah Ikan Biawan, Menyadin, dan Ikan Muayang serta ada juga dari ikan campur. “Kalau untuk kerupuk dengan kualitas bagus, ikan yang digunakan ialah Ikan Gabus”, ucapnya.

Untuk membedakan antara kerupuk yang menggunakan Ikan Gabus dengan kerupuk yang menggunakan ikan campur, bisa dilihat dari warnanya. “Kalau Ikan Gabus, terlihat agak putih dibandingkan dengan menggunakan ikan campur. Hasilnya juga putih bila telah kering,” lanjut Bu’ Isa.

Kuantitas kerupuk yang dihasilkan sangat tergantung pada seberapa banyak ikan yang didapat. “Biasanya kalau ikan panen banyak, 100 kg sekali olah. Untuk 100 kg ikan pengerjaannya hanya memakan waktu1 hari, yang dikerjakan oleh 3 orang. Sebagai komposisi, kalau menggunakan takaran, biasanya 15 kg ikan, 10 bungkus garam, 7 kg air, 1 karung sagu, dan micin/penyedap rasa 10 bungkus (250 mg/bungkus),” Bu’ Isa menjelaskan.

Bagi masyarakat semangit, berdasarkan kebiasaan yang berkembang dimasyarakat, peran mencari ikan umumnya dilakoni oleh kaum bapak, sedangkan untuk pengolahan ikan dilakoni oleh kaum ibu. Hal ini juga berlaku dalam pengolahan kerupuk. Sehingga ikan yang dibutuhkan sebagai bahan baku utama pembuatan kerupuk, ketersediaannya tergantung pada seberapa besar usaha dari kaum bapak dalam mencari ikan. “Misalnya diwaktu ada acara seperti sekarang ini, bapak-bapak semuanya pada sibuk, jadi kita ibu-ibu untuk ikan yang sudah ada, dimasukkan ke lemari pendingin, kita kumpul dulu hingga cukup, sesuai dengan takaran (batas minimum). Kalau sedikit-sedikit capek kerjakannya,” terang Bu’ Isa.

Ketika ditanyai mengenai bagaimana pemasarannnya, Bu’ Isa mengatakan bahwa kerupuk ini kan sudah terkenal, biasanya ada yang pesan 500 kg. Untuk waktunya tergantung dari banyaknya ikan yang didapat, kalau dapat banyak, cepat juga prosesnya. “Tergantung juga dari cuaca, kalau panasnya kurang, kurang juga hasil tangkapan ikannya,” tegas Bu’ Isa.

Terkait hambatan yang dialami dalam pembuatan kerupuk, Pak Uge membenarkan pernyataan Bu’ Isa. Ia menuturkan, ini juga yang menjadi salah satu hambatan kami di sini, karena pembuatan kerupuk ini kan melalui penjemuran, yang memerlukan 2-3 hari kerupuk itu baru bisa kering. “Kalau musim penghujan ya gagal, kadang takarannya walau sudah bagus, kendalanya panas yang kurang, karena selama ini penjemuran dilakukan di tempat terbuka,” Bu’ Isa melanjutkan pembicaraannya.

Proses pembuatan kerupuk ikan khas Putussibau tidak jauh berbeda dari proses pembuatan krupuk pada umumnya, mulai dari penyiapan bahan baku, pengadonan, perebusan hingga pada proses penjemuran. “Umumnya, untuk komposisinya tidak menggunakan ukuran yang pasti, sesuai dengan selera aja, biasanya sebagai patokan bila dipegang adonan tidak lengket di tangan,” jelas Bu’ Isa.

Ia melanjutkan, untuk tahapan dalam pembuatan kerupuk, ketika ikan sudah ditangkap, ikan tersebut di bersihkan, dibuang perut dan kepalanya, kemudian setelah itu di Es/didinginkan selama 1 malam. Hal ini dimaksudkan supaya darah ikan keluar semua dan amisnya hilang setelah itu barulah ikan digiling. “Penggilingan dilakukan sebanyak dua kali, agar ikannya benar-benar halus, supaya nanti ngirisnya (memotong) lebih mudah. Selanjutnya barulah di adonan,” ujar Pak Uge menyela pembicaraan kami.

Pak Uge menjelaskan, pengadonan ada dua proses, yang pertama pengadonan isi ikan yang disesuaikan dengan takaran (ada air, garam dan penyedap rasa) setelah itu baru dicampur dengan tepung sagu. “Setelah dicampur dengan tepung sagu, seketika itu juga dilakukan pengindalan/dicampur hingga merata, setelah itu ditimbang baru kemudian digulung  (dibentuk menyerupai tabung yang panjangnya kurang lebih 30 cm). Setelah digulung kemudian dibungkus dengan karung yang telah dipersiapkan sebelumnya, setelah selesai pembungkusan barulah direbus,” lanjutnya.

Bu’ Isa kemudian melanjutkan pembicaraannya, ia menjelaskan waktu perebusan biasanya kurang lebih dua jam. Ketika air sudah mendidih, baru kerupuk itu dimasukkan ke dalam air mendidih tersebut (wajan yang berisi air panas). Supaya tidak lengket, kerupuk dibungkus dengan karung khusus yang telah dipotong sesuai ukuran. Kalau dulu sebelum menggunakan cara itu, lengket, agak susah.

kerupuk yang telah dibungkus dan siap untuk direbus. Doc: Asmadi

Untuk melihat apakah kerupuknya sudah matang atau tidak, diangkat salah satu, kemudian di cek dengan cara ditusuk atau di potong ujungnya, kalau sudah terlihat bening bagian tengahnya, berarti kerupuk sudah matang. “Kalau kerupuknya sudah matang, kerupuk diangkat kemudian di buka bungkusnya dan didinginkan kurang lebih 1 jam. Proses selanjutnya adalah pewarnaan (kalau kerupuk ingin diwarna). Setelah diwarna barulah kerupuk diiris. Setelah selesai diiris baru dijemur ketempat penjemuran,” lanjutnya menjelaskan.

Harga jual kerupuk ikan ini bervariasi, tergantung ukuran dan jenis ikan yang digunakan. “Kalau halus, yang menggunakan ikan campur, harganya Rp 30.000,-/kg nya, kalau yang besar dan sudah diwarna, Rp 25.000,-/kg nya dan untuk ikan gabus, Rp 45.000,-/kg nya, karena juga dibumbu. Bumbu tergantung pesanan, ada yang minta disahang, ada juga yang menggunakan bawang putih,” lanjut Bu’ Isa. (Ben)

LEAVE A REPLY