Hindari Kecelakaan Kerja, Konsorsium Dian Tama Lakukan Sosialisasi K3

0
158
Konsorsium Dian Tama saat melakukan sosialisasi K3 di Bappeda Kapuas Hulu

Kapuas Hulu, swaraperiau.com – Panduan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan panduan yang mengatur tata cara perlindungan diri untuk menghindari kecelakaan kerja akibat pembangunan. Untuk mengurangi resiko kecelakaan kerja, bertempat di aula Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kapuas Hulu, Konsorsium Dian Tama mengadakan sosialisasi Standar Operasional Prosedur (SOP) K3 bagi komunitas sasaran penerima manfaat proyek Kemakmuran Hijau dan kontraktor pembangunan, Rabu (4/10).

Konsorsium Dian Tama merupakan pelaksana proyek kemakmuran hijau dari Millenium Challenge Account-Indonesia (MCA-Indonesia), dimana sebelumnya MCA-Indonesia telah menandatangani Nota Kesepahaman bersama antara MCA-Indonesia, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, dan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu dalam tata persiapan dan pelaksanaan program hibah compact proyek Kemakmuran Hijau di Kabupaten Kapuas Hulu.

MCA-Indonesia adalah lembaga wali amanat yang di bentuk oleh pemerintah Republik Indonesia untuk mengelola dana hibah compact dari pemerintah Negara Amerika Serikat untuk negara-negara berkembang, yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan melalui ekonomi rendah karbon, yang di implementasikan dalam beberapa proyek seperti penyediaan energi baru dan terbarukan, memperbaiki bentang lahan, dan meningkatkan produktivitas masyarakat.

Telah disetujui dan ditetapkan 7 konsorsium penerima dana hibah program Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat (PSDABM) di wilayah Kalimantan Barat, satu diantaranya adalah Konsorsum Dian Tama yang wilayah kerjanya di Kabupaten Kapuas Hulu.

Konsorsium Dian Tama, melalui proyek kemakmuran hijau MCA-Indonesia, akan membangun beberapa fasilitas dasar bagi masyarakat, dimana pengerjaannya menggandeng tenaga kerja dari penduduk lokal dan tenaga konstruksi.

Berkenaan dengan penting adanya standar K3, Kristianus Atok (51) Konsultas Environment and Social Management System (ESMS), Ia mengatakan bahwa dalam proyek Proyek ini melibatkan banyak sumber daya yang memiliki kompetensi dibidangnya masing-masing. Sebagai bagian dari pengelolaan proyek, perlu disusun sebuah panduan Kesehatan dan Keselamatan kerja (K3) utuk menghindari kecelakaan kerja dan mengoptimalkan kinerja pekerja kontruksi dalam pembangunan Rumah Produksi Madu-Ikan, Pembangkit Listrik tenaga Surya, dan Fasilitas Dasar Ekowisata.

“Apabila terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki pada saat kita bekerja, maka langkah-langkah inilah yang harus di tempuh, itu singkatnya berkenaan dengan SOP yang kita bahas hari ini,” tegas Kristianus.

Menghindari terjadinya kecelakaan kerja, pelaksana kegiatan harus melakukan identifikasi potensi bahaya berdasarkan jenis-jenis pekerjaan yang akan dilakukan, dengan mempertimbangkan jenis pekerjaan, bahan dan material, peralatan, cara kerja, alat pelindung diri, rambu-rambu, dan lingkungan kerja. “K3 adalah usaha kita bersama mencegah terjadinya kecelakaan kerja”. Demikian Kristianus menjelaskan.

Lanjut Kristianus, sebagus apapun hasil pengerjaan proyek, apabila ada pekerjaan yang mengakibatkan kecelakaan apalagi sampai berakibat hilangnya nyawa seseorang, maka bisa dikatakan proyek itu gagal”. Demikian disebutkan Kritianus Atok.

Hal senada juga disampaikan oleh Ade Achmad Bujani (43), staf proyek Konsorsium Dian Tama dari Yayasan Riak Bumi Indonesia. Sebagai staf organizer Sub Sentra Asosiasi Periau Muara Belitung, Ia mengungkapkan bahwa K3 perlu mendapat perhatian serius guna menghindari terjadinya hal-hal yang tidak di inginkan. Ketika ada masyarakat ikut bekerja, maka perlu dilindungi dan dijamin keselamatannya ketika bekerja.

“Hal ini menjadi penting untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan yang berpotensi membahayakan pekerja proyek, sebab bagaimanapun hasil proyek disebut bagus, jika ada kecelakaan, sekecil apapun itu, maka akan berimbas pada kita selaku perwakilan konsorsium di lapangan, bahwa proyek kita gagal dan menyebabkan bahaya,” demikian Ade Achmad Budjani menjelaskan.

Ambrosius (33) salah satu kontraktor pembangunan, menyampaikan bahwa sosialisasi K3 sangat penting, supaya pihak kontraktor sebagai pelaksana pembangunan bisa mengerti, dan menerapkan berkenaan dengan standarisasi dalam bekerja yang diterapkan oleh konsorsium Dian Tama.

“Selaku pihak kontraktor yang nantinya akan bekerja dilapangan, tentu hal ini menjadi penting sebagai pedoman kami dalam bekerja. Dengan adanya K3 yang standarnya sudah kita penuhi, kita dapat bekerja dengan baik dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan”, ucap Ambrosius melengkapi keterangannya. [Ignatius Noreng]

LEAVE A REPLY