Kurangi Ketergantungan Masyarakat Terhadap Alam, Kembangkan Ekowisata di Meliau

0
174
Tampak dari depan Kondisi Rumah Betang di Meliau, Doc: Noreng

Meliau, swaraperiau.com – Ketergantungan masyarakat terhadap alam masih sangat tinggi. Hal ini mengakibatkan ancaman terhadap kawasan hutan dan lingkungan di sekitarnya. Untuk itu, perlu adanya tindakan atau solusi yang tepat agar secara perlahan masyarakat mulai mengurangi ketergantungan mereka terhadap hutan. Caranya, perlu diambil langkah-langkah mitigasi dan solusi yang tepat, sehingga dampak yang akan timbul dapat diminimalisir. Salah satunya dengan menyediakan alternatif ekonomi tambahan melalui kegiatan ekowisata, Rabu (27/9).

Pengembangan destinasi ekowisata menjadi salah satu cara yang paling memungkinkan untuk dilaksanakan. Ekowisata adalah sebuah konsep wisata yang berbasis kekayaan keaneka ragaman hayati sebagai atraksi. Dengan demikian, diharapkan kegiatan ekowisata dapat menjadi solusi yang tepat, agar hutan menjadi kawasan yang ramah terhadap masyarakat dan sebagai sumber ekonomi alternatif yang dapat membantu masyarakat dalam menunjang kehidupan sehari-hari.

“Eksotisme Rumah Panjang di dalam hutan, beragam tanaman angrek alam, pengamatan satwa liar termasuk Orangutan, spot memancing, dan pengamatan ikan endemik nan eksotis, kehidupan mayarakat Dayak Nelayan, serta seni budaya Dayak Iban, menjadikan pola wisata ini tidak hanya unik dan menarik, tetapi juga memiliki nilai jual yang tinggi, dan dapat memperlama waktu tinggal kunjungan wisatawan,” demikian diceritakan Eduardus Ratungan (42), pria bertato pegiat wisata asal kecamatan Embaloh Hulu, yang kini menjabat sebagai Direktur Komunitas Pariwisata Kapuas Hulu (Kompakh) dengan antusias menceritakan potensi wisata di Meliau yang menjadi wilayah binaan nya.

Potensi sumber ekonomi lain bagi masyarakat Meliau adalah kerajinan tangan. Produksi kerajinan tangan dapat disinergikan dengan pengembangan Ekowisata. Menganyam rotan telah menjadi keterampilan para wanita Iban sejak dahulu. Mereka melakukannya di ruai Rumah Panjang, menjelang masa panen. Perempuan yang sangat ahli menganyam dapat dikenali dengan adanya tanda berupa tato di tangan sebagai simbolik keahlian dalam bidang anyam- menganyam. “Hampir semua masyarakat memiliki kebiasaan dan keahlian dalam membuat kerajinan tangan,” tutur Eduardus Ratungan, yang kerap disapa Edu.

Dusun Meliau merupakan salah satu dusun yang ada di Desa Melembah. Dusun yang memiliki rumah bentang panjang dengan 13 kamar di dalamnya dan merupakan rumah dari 33 Keluarga masyarakat Dayak iban. Wilayah ini memiliki potensi pariwisata unggulan yaitu Hutan, danau-danau dan budaya.

Lokasi Dusun Meliau yang berada dalam Sub DAS Labian-Leboyan. Selain mengandalkan aliran Sungai Labian-Leboyan sebagai jalur transportasi dan penunjang perekonomian, juga mengandalkan beberapa danau-danau. Danau-danau ini merupakan habitat asli dari ratusan spesies ikan air tawar baik yang endemik maupun ikan bernilai ekonomi tinggi dengan ragam satwa liar seperti mamalia, burung, dan reptil.

Beberapa satwa liar ini sangat memiliki nilai atraksi tinggi, sebut saja Orangutan (Pongo pygmaeus), Bekantan (Nasalis larvatus), serta beberapa jenis burung termasuk jenis Rangkong (Bucerotidae) dan beberapa jenis reptil termasuk Buaya Senyulong (Tomistoma sclagelli) dan Biawak besar. [Ignatius Noreng]

LEAVE A REPLY