Denyut Kehidupan Dari Danau Kematian

0
304
Anak-anak di Desa Nanga Lauk dari kecil sudah terbiasa dengan aktifitas di perairan, termasuk bersampan dan mencari ikan di Sungai.

Nanga Lauk, swaraperiau.com – Kematian, banyak orang mengartikannya sebagai sesuatu yang menakutkan, mengerikan, dan bahkan kalau bisa, di hindari kedatangannya. Karena selama ini umumnya kematian dipahami bahwa akan ada kesedihan dan kehilangan. Namun tidak demikian bagi warga Desa Nanga Lauk. Kematian justru bermakna sebaliknya, dari situlah sumber kehidupan warga Nanga Lauk selama ini bergantung.

 

Desa Nanga Lauk adalah suatu pemukiman nelayan yang berada di tepian Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas. Secara administratif, tercatat di dalam wilayah Kecamatan Embaloh Hilir, kabupaten Kapuas Hulu, Propinsi Kalimantan Barat.

 

Sabtu, 9 September 2017 lalu, saya selaku penunjuk jalan mendampingi tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Konsorsium Dian Tama pada Proyek Kemakmuran Hijau Millennium Challenge Account – Indonesia, akan menuju Desa Nanga Lauk, perkampungan nelayannan eksotis yang ada di di bantaran sungai Apalin guna menelusuri denyut kehidupan di Danau Kematian.

 

Melintasi jalur Sungai Apalin, sampan masih menjadi moda transportasi utama andalan masyarakat dari dan menuju Desa Nanga Lauk untuk mencapai daerah terdekat, dikarenakan belum adanya jalur jalan raya mengakses daerah Desa Nanga Lauk.

 

Danau Kematian adalah suatu danau resapan hamparan banjir yang terletak di wilayah desa Nanga Lauk. Danau Kematian berperan penting dalam keseimbangan ekosistem di Nanga Lauk dan sekitarnya, karena Danau Kematian dan hutan disekitarnya adalah rumah bagi sekian makhluk darat, air, maupun udara, dimana menjadi sumber kehidupan pula bagi warga desa nanga lauk. Dari danau kematianlah selama ini denyut nadi perekonomian warga desa Nanga Lauk berdetak.

Lanting/ Rumah apung, salah satu rumah milik nelayan Nanga Lauk yang berada di Danau Kematian

Konon ada legenda yang dipercaya masyarakat Nanga Lauk tentang asal penamaan Danau Kematian. Berawal dari adanya sepasang suami isteri. Isteri tersebut sangat cantik dan menjadi kembang kampung di Nanga Lauk, yang karena kecantikan nya membuat seorang pria, yang kebetulan berteman baik dengan suami si kembang kampung, menjadi terpikat akan kecantikan si kembang kampung dan memiliki niat jahat ingin memiliki wanita si kembang kampung menjadi isterinya. Namun karena si wanita kembang kampung sudah bersuami, tentu tidak mudah untuk mengambil begitu saja si wanita sebagai isteri. Akhirnya membuat pria tersebut menyusun rencana jahat bagaimana cara merebut wanita kembang kampung dari suami nya yang sah.

 

Disusunlah rencana yang sedemikian rupa oleh lelaki tersebut untuk merebut si wanita kembang kampung. Pada suatu hari, lelaki tersebut mengajak suami si wanita kembang kampung untuk menjala mencari ikan ke danau Kematian (nama danau kematian sebelum kejadian ini tidak diketahui apa namanya). Sesampai di danau, di tebarkanlah jala oleh si lelaki yang hendak merebut wanita kembang kampung tersebut, dan jala itu tersangkut kayu di dalam air. Karena jala tersangkut, si lelaki penebar jala yang ingin merebut si wanita kembang kampung itu, meminta suami si kembang kampung tersebut untuk turun ke dalam air dan menyelam untuk melepaskan jala yang tersangkut. Ketika lelaki suami si kembang kampung tersebut masuk ke air dan menyelam, lelaki yang ingin merebut isteri nya ini langsung menghujamkan tombak ke arah si suami yang sedang berada di dalam air, ia membunuh suami wanita kembang kampung tersebut. Karena adanya kejadian pembunuhan di danau tersebut, maka danau itu dinamakan Danau Kemati.

 

Namun ada versi lain lagi berkenaan dengan pelaku dan korban yang di bunuh. Versi lain nya, masih tentang dua orang lelaki yang bersahabat. Lelaki yang satu memiliki isteri yang cantik dan mereka sudah lama berumah tangga namun belum di karuniai anak.Namun pada suatu rentang waktu berjalan, isterinya hamil. Namun bukan kegembiraan mendapat keturunan yang hadir di benak sang suami, melainkan rasa curiga dan cemburu terhadap sahabatnya sendiri yang memang kebetulan sering bertandang ke kediaman suami isteri tersebut. Karena kecemburuan nya, sang suami mengajak sahabat nya tersebut mencari ikan ke danau. Alur ceritanya hampir sama dengan versi pertama, hanya beda pelaku. Yakni di danau tersebut, mereka menebar jala untuk menangkap ikan dan jala nya tersangkut, sahabatnya turun ke air, menyelam untuk melepaskan jala yang tersangkut, kemudian saat sahabatnya menyelam, sang suami membunuh sahabatnya dengan tombak yang memang sudah di sediakan di dalam sampan. Karena adanya kejadian pembunuhan itu, maka danau tersebut di namakan Danau Kemati.

 

Ke dua versi sama-sama bercerita tentang kejadian pembunuhan yang menjadi dasar penamaan Danau Kemati. Versi pertama karena ingin merebut isteri orang, versi kedua karena cemburu dan curiga isterinya di hamili orang lain.

 

Hamdi (48), adalah salah seorang masyarakat nanga lauk yang gelisah akan keberlangsungan Danau Kematian. Sebabnya tak lain dan tak bukan adalah timbulnya berbagai permasalahan di sekitar danau tersebut. Dengan jabatannya sebagai ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa Lauk Bersatu, Ia menjadi perpanjangan tangan dan harapan warga Nanga Lauk untuk melihat ke masa depan.

 

Hamdi menceritakan, Bertani, berkebun, mencari ikan, dan mencari dan membudidayakan madu hutan menjadi kegiatan utama masyarakat Nanga Lauk. Pertanian hanya sebatas mengusahakan padi, untuk memenuhi kebutuhan sendiri, tidak untuk dijual. Karet merupakan komoditas klasik warga Nanga Lauk. Warga Nanga Lauk, selain menjadi Nelayan, juga mengusahakan pertanian, perkebunan dan madu hutan sebagai aktivitas untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

 

Lanjut Hamdi, perikanan menjadi sektor pendukung utama ekonomi warga Nanga Lauk. Warga mencari ikan disepanjang aliran sungai dan danau dengan menggunakan jala, warin, pancing, pukat dan bubu. Hasil tangkapan nya ikan Toman, Entukan, Biawan, dan ikan-ikan lainnya. “Kerja nelayan dimulai pagi hinga petang, hasilnya tak tentu,” tambah Hamdi.

Ikan Tapah dan ikan Toman segar, hasil tangkapan dari danau Kematian yang diperoleh dengan cara dipancing menggunakan Rabai

Mata pencaharian warga Nanga Lauk utamanya adalah nelayan, yang mengharuskan mereka lebih banyak berhubungan dengan Danau Kematian. Ikan, menjadi komoditi andalan nya. “Ikan sudah disediakan alam, kita manusia boleh mengelola tanpa harus ada keahlian, semua orang bisa kerja ikan,” Demikian diucapkan Hamdi.

 

Dari semua kekayaan alam yang ada, selain ikan, masyarakat Nanga Lauk mendapat banyak sumber kehidupan diantaranya dari kayu bakar, rotan, madu, sayuran, buah-buahan, kayu, dan berbagai macam hasil alam yang dapat dimanfaatkan. Meski begitu, bukan berarti masyarakat terlepas dari persoalan kelestarian alam. Populasi ikan yang semakin berkurang menjadi catatan tersendiri. Batang Lauk yang dulunya mengantarkan banyak ikan bagi masyarakat yang berdiam di sepanjang sungai itu semakin hari semakin berkurang.“Dulu, ikan dari batang Kapuas, mudik ke batang lauk ini, masuk ke danau kematian, dan kami tidak pernah kekurangan,” keluh Hamdi. Lanjutkan nya, Jika dihitung-hitung, hasil tangkapan per musim panen dalam kurun waktu setahun, hasil ikan segar yang di dapat warga Nanga lauk mencapai 30 ton, hanya dari danau Kematian.

 

Hal senada juga diungkapkan oleh Dahlan (35), salah satu nelayan danau kematian. Ia menuturkan bahwa sebagai nelayan danau kematian, rasanya hasil tangkapan setiap hari semakin berkurang. Berkurangnya hasil jumlah tangkapan terjadi karena faktor alami. Cuaca hujan panas dan kemarau yang terjadi tidak menentu, mengakibatkan peristiwa pasang surut pada danau tidak teratur. “Karena cuaca tidak stabil, anakan ikan tidak jadi dengan sempurna, sehingga ikan yang harusnya hidup dan berkembang biak menjadi mati”, Dahlan menambahkan.

 

Sumber ekonomi masyarakat sangat tergantung pada kondisi alam. Kondisi air danau sangat berpengaruh pada hasil tangkapan ikan masyarakat sebagai nelayan. “Selain cuaca, juga pendangkalan danau. Ikan lari dari danau masuk kesungai, kalau ikan disungai sulit ditangkap, tidak seperti di Danau,” jelas Hamdi saat ditanya mengapa hasil tangkapan ikan di Danau Kematian terasa berkurang.

 

Terkait perlindungan ikan di kawasan Nanga Lauk, diceritakan oleh Hamdi bahwa hal tersebut diatasi dengan pengaturan penggunaan alat tangkap. Di lokasi tertentu hanya boleh menggunakan alat tangkap tertentu pula.Kearifan-kearifan semacam ini pula yang dilakukan untuk mengatasi berbagai macam lagi persoalan kelestarian alam. “Hubungan alam dan masyarakat Nanga Lauk, layaknya semacam hubungan kekasih, saling melengkapi dan saling mengisi. Bila yang satu bermasalah, yang lain akan bermasalah. Bila yang satu lestari, yang lain akan lestari pula,” demikian ucap Hamdi menutup perbincangan. [Ignatius Noreng]

LEAVE A REPLY