APBS Siapkan 36.000 bibit untuk Memperkaya Keanekaragaman Pakan Lebah

0
196
Bibit Pakan Lebah yang telah siap untuk di tanam

Bunut, swaraperiau.com – Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat (PSDABM) merupakan alternatif pengelolaan yang diharapkan mampu menjawab persoalan yang terjadi di suatu wilayah berdasarkan karakteristik Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) di wilayah tersebut. Dalam hal ini, suatu komunitas mempunyai hak untuk dilibatkan atau bahkan mempunyai kewenangan secara langsung untuk membuat sebuah perencanaan pengelolaan wilayahnya disesuaikan dengan kapasitas dan daya dukung wilayah terhadap ragam aktivitas masyarakat di sekitarnya.Asosiasi Petikung Bunut Singkar (APBS) adalah salah satunya. Sejak juni 2016, APBS menjadi kelompok sasaran penerima manfaat proyek kemakmuran hijau dari Millenium Challenge Account – Indonesia (MCA – Indonesia) yang dilaksanakan oleh Konsorsium Dian Tama, Senin (11/9).

“Tujuan utama kegiatan ini adalah bagaimana upaya untuk meningkatkan produksi madu dan ikan, meningkatkan kualitas madu yang dihasilkan, memelihara hutan dan alam sekitar,” demikian ujar Rizal (44), selaku Community Organizer (CO) Sub-Sentra APBS, saat menjelaskan kegiatan Konsorsium Dian Tama di APBS.

Dalam kehidupan bermasyarakat, ada cara tersendiri dalam hal mengelola SDM, yang tentunya disesuaikan dengan bentang alam, budaya, kebiasaan, dan cara pandang masyarakat itu sendiri (kearifan lokal). Mekanisme pengelolaan SDA yang berasal dari masyarakat akan lebih mudah dipahami dan diterapkan serta cenderung menjadi keyakinan masyarakat untuk menjaga dan mengelola SDA yang berada di sekitarnya.

Ibrahim (49), Ketua Nelayan yang juga merupakan ketua petikung Danau Sabit mengungkapkan bahwa, kegiatan perekonomian masyarakat Bunut Hilir sudah jarang berladang. Dalam menunjang kebutuhan sehari-hari lebih banyak menjadi nelayan dan petikung. “Danau Sabu dan Danau Pilen di tetapkan menjadi danau lindung yang dikuatkan dengan surat keputusan bupati,” tambah Ibrahim.

Kebakaran hutan dan lahan saat ini masih menjadi masalah utama yang menghantui nelayan dan periau. Kebakaran terjadi disebabkan oleh berbagai faktor sesuai dengan karakteristik wilayah dan budaya atau aktivitas masyarakatnya. Paling sering adalah karena kelalaian, atau tanpa disengaja, baik oleh masyarakat setempat maupun masyarakat luar yang beraktifitas di kawasan hutan.

Masyarakat penggiat madu hutan sangat berkepentingan dengan hutan yang terbebas dari kebakaran dan asap. Karena bila ada kebakaran hutan, semua usaha yang telah dilakukan dalam rangka pengelolaan madu hutan akan sia-sia.

Kawasan hutan rawa gambut sangat mudah terbakar apalagi pada saat musim kemarau. Kawasan yang dimaksud adalah tempat pemasangan tikung, lubuk-lubuk ikan, sungai, danau dan hutan lainnya. “Dampak yang paling dirasakan sebagai akibat kebakaran hutan adalah terganggunya habitat alami ikan dan lebah hutan, akibatnya pendapatan masyarakat menurun,” jelas Rizal.

Melindungi hutan atau kawasan adalah hal yang utama untuk keberlanjutan hidup kedepannya. Penanaman pohon, selain untuk tujuan penghijauan, karena yang ditanam adalah pakan lebah, tujuan lainnya untuk memperkaya keanekaragaman pakan lebah. “Dengan beragamnya pakan lebah, diharapkan menambah jumlah madu yang dihasilkan oleh lebah dan menghasilkan madu yang berkualitas, dan alam tetap asri,” tutur Safi’i (43) selaku ketua periau Duak Kuku’ yang juga menjabat sebagi Inspektor Internal APBS.

APBS beranggotakan 12 Kelompok Periau, sejauh ini sudah melakukan pembibitan sebanyak 36.000 bibit dengan kondisi siap tanam. Anggota periau dikawasan ini juga merupakan nelayan air tawar yang mengandalkan kesehatan habitat rawa dan hutan rawa gambut, sehingga sangat berkepentingan akan keberlangsungan alam sekitar. “Periau Duak Kuku’ sudah tersedia 3.000 bibit siap tanam, terdiri dari Kayu Putat, Samak, Kayu Taon, Kayu Besi, dan Kemsiak,” jelas Safi’i.

Rizal menjelaskan bahwa pada proyek Kemakmuran Hijau Konsorsium Dian Tama, APBS sedianya akan menanam tanaman untuk pengkayaan pakan lebah. Secara keseluruhan 36.000 bibit sudah tersedia dan siap tanam, tinggal menunggu kondisi daratan yang bisa ditanam. [Ignatius Noreng]

LEAVE A REPLY