Sarasehan PeSoNa: Rakyat Bicara dengan Pelaku Bisnis

0
153
Peseta saat mengikuti Sarasehan FeSoNa

Jakarta, swaraperiau.com – Pengembangan wirausaha merupakan salah satu kunci penting mendukung keberhasilan program Kebijakan Reforma Agraria dan Perhutanan Sosial (RAPS), baik di dalam maupun di luar kawasan hutan.  Masyarakat yang hidup di dalam atau luar kawasan hutan perlu didukung agar dapat mengelola kawasan tersebut, sehingga hutan tetap terjaga secara ekologis dan memberikan manfaat ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Beranjak dari hal tersebut, bertempat di Rimbawan 1, Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, sarasehan yang bertemakan Festival Perhutanan Sosial Nasional (PeSoNa): Rakyat Bicara dengan Pelaku Bisnis, diadakan, Kamis (07/9).

PeSoNa: Rakyat Bicara dengan Pelaku Bisnis, yang didukung oleh 6 lembaga/instansi yaitu diantaranya: KLHK, Yayasan KEHATI, MCA-Indonesia, WRI Indonesia, MFP3, dan Hutan Itu Indonesia, mempertemukan kelompok tani/ hutan/ pelaku wirausaha Perhutanan Sosial dengan pelaku usaha, baik yang berskala kecil maupun besar dalam suatu dialog konstruktif guna mendiskusikan kendala yang dihadapi kelompok tani/ hutan/ pelaku wirausaha perhutanan kecil agar dapat menembus pasar yang lebih luas.

Kegiatan yang berlangsung sejak jam 14:00 WIB ini, menghadirkan sedikitnya 7 orang narasumber, diantaranya: 1) Bapak Catur Budi Harto, selaku Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan BNI, 2) I Gusti Agung Prana, selaku Sosial Entrepreneur (TBC), 3) Rika Anggraini, selaku GM Corporate Communication, The Body Shop, 4) Ivan Sandjaja, ‎selaku Ciputra Entrepreneurship Foundation, 5) Mintarjo, selaku Pemilik PT Abioso Boyolali (TBC), 6) Pamitra Wineka, selaku Chairman & Co-Founder TaniHub & TaniFund, dan 7) Arief Rabik, selaku Direktur PT Indobamboo Lestari.

Dalam kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih dua setengah jam tersebut, dibahas berbagai tofik pembincangan yang menarik, diantaranya: 1) Berjalannya kegiatan on-farm (terkait usaha) dan off-farm (pasca panen, pengolahan, peningkatan nilai tambah, pemenuhan standart pasar tertentu, mengembangkan rencana kelola usaha, kewirausahaan sosial. 2) Peningkatan akses terhadap pasar: produk HHBK, kayu, ekowisata dan komoditi (Madu, Sagu, Kopi, Rotan, Karet, Aren, Coklat, Lada, Kayu Manis, Empon-empon, Pala, Porang, Tengkawang, Purun. 3) Tata usaha hasil hutan, PNPB dan Iuran. 4) Sinergi dengan kelompok usaha atau entitas lainnya (BUMDes atau institusi ekonomi lokal, KPH).

Kegiatan berlangsung tambah meriah dengan hadirnya Kang Miing (Dedi Gumelar) sebagai host dan Uyau Moris, pemain Sampek (musik tradisional Dayak) sebagai pemusik dalam kegiatan tersebut.

LEAVE A REPLY