Irawan: Mengurangi Kemiskinan Melalui Pertumbuhan Ekonomi Ramah Lingkungan

0
214
Konsorsium Dian Tama saat melakukan Konsultasi dan Koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu. Doc: Tim Konsorsium Dian Tama/Noreng

Kapuas Hulu, swaraperiau.com – Konsorsium Dian Tama yang diwakili oleh Thomas Irawan Sihombing selaku Proyek Manager konsorsium Dian Tama sampaikan gambaran kegiatan proyek Kemakmuran Hijau yang sudah dilaksanakan di Kabupaten Kapuas Hulu hingga saat ini kepada Pemerintah Kabupaten. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kapuas Hulu, Selasa (30/05).

 

Thomas Irawan Sihombing mengatakan bahwa, proyek Kemakmuran Hijau merupakan salah satu kegiatan dari Millenium Challenge Account-Indonesia (MCA-Indonesia) yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dengan meningkatkan penyediaan dan pemanfaatan energi terbarukan, meningkatkan produktivitas dan mengurangi emisi gas rumah kaca berbasis lahan dengan memperbaiki kegiatan pemanfaatan lahan serta pengelolaan sumber daya alam.

 

Ia melanjutkan, untuk mencapai tujuannya tersebut, maka kegiatan-kegiatan Proyek Kemakmuran Hijau akan diarahkan pada kegiatan yang bertujuan mengurangi kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan ditingkat kabupaten, berupa kegiatan yang memperluas akses terhadap energi terbarukan, meningkatkan produktivitas dan praktek-praktek tata guna lahan, memperbaiki pengelolaan lingkungan serta memperkuat perencanaan tata ruang di tingkat daerah.

 

“Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu telah menandatangani nota kesepakatan bersama dengan MCA-Indonesia pada tanggal 15 Desember 2015, tentang Persiapan dan pelaksanaan Program Compact Proyek Kemakmuran Hijau di Kabupaten Kapuas Hulu. Kerjasama ini diharapakan akan membawa manfaat bagi pemerintah daerah dan masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu dalam meningkatnya kapasitas untuk meningkatkan mutu penataan ruang di tingkat kabupaten dan menciptakan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan untuk mengurangi angka kemiskinan”, tegas Thomas Irawan Sihombing yang akrab di sapa Irawan.

 

Kawasan kerja proyek merupakan bagian dari daerah tangkapan air DAS Kapuas dan Sub-DAS Leboyan/labian. Daerah tangkapan ini dinamai Upper Kapuas Basin, dimana wilayah proyek merupakan komplek hutan rawa dan sebagian hutan lahan kering dataran rendah. Hutan rawa memiliki 3 tipe, yaitu hutan rawa tinggi (tall), hutan rawa rendah (stunted) dan hutan rawa kerdil (dwaft). Sebagian hutan rawa tumbuh diatas tanah yang bergambut-hutan rawa gambut.

 

Irawan menjelaskan, Secara spesifik, proyek dilaksanakan di lokasi berbasis area kerja periau di lima sub-sentra dan meliputi 86.000 hektar yang tersebar di 18 desa di tujuh kecamatan (Selimbau, Jongkong, Batang Lupar, Suhaid, Badau, Bunut Hilir dan Embaloh Hilir) yang didalamnya terdapat kawasan hutan rawa gambut, area kerja periau dan nelayan serta wilayah kelola ekowisata.

“Untuk mendorong peningkatan produktivitas, proyek ini akan mendukung pembangunan sarana fisik yang akan menjadi aset komunitas, yaitu untuk pengolahan produk unggulan madu hutan, berupa rumah produksi madu 5 unit, peralatan pengolahan madu hutan untuk 5 rumah produksi, panel surya dan kelengkapannya untuk 5 rumah produksi. untuk pengolahan produk unggulan ikan, berupa Peralatan pengolahan ikan untuk 5 kelompok perempuan. Untuk produk unggulan ekowisata, akan ada bangunan berupa jalur tracking 4 jalur, rumah singgah 6 shelter, pusat informasi 2 unit, dan home stay 2 unit”, lanjut Irawan.

 

Irawan menegaskan, dengan semangat membangun di Kabupaten Kapuas Hulu serta rasa tanggungjawab kepada masyarakat, ini menjadi penting disampaikan, agar berbagai pihak dapat mengetahui, mengikuti perkembangan, hasil hingga dampak dari dilaksanakannya proyek ini, serta mendapatkan masukan sebagai upaya konsultasi dengan berbagai pihak dalam menjalankan proyek. Sehingga dapat memenuhi tujuan proyek dan harapan terutama bagi masyarakat Kapuas Hulu. (Ignatius Noreng)

 

LEAVE A REPLY