Konsorsium Dian Tama Sampaikan progress proyek kemakmuran hijau di Kapuas Hulu

0
426
Konsorsium Dian Tama saat mengadakan pertemuan dengan Pemerintah Kab. Kapuas Hulu. Doc: Tim Konsorsium Dian Tama/Noreng

Kapuas Hulu, swaraperiau.com – Bertempat di Aula Pertemuan Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kapuas Hulu, Thomas Irawan Sihombing, Proyek Manager konsorsium Dian Tama sampaikan gambaran kegiatan proyek yang sudah dilaksanakan, Selasa (30/05).

Proyek ini berjudul Pengelolaaan Sumber Daya Alam Hutan Rawa Gambut dan Pemanfaatan Energi Terbarukan Untuk Meningkatan Produktivitas Produk Unggulan Masyarakat di Kabupaten Kapuas Hulu.

Dilaksanakan oleh tujuh lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang tergabung dalam Konsorsium Dian Tama, kegiatan ini dibiyai oleh Millenium Challenge Account – Indonesia (MCA-Indonesia) dengan besaran dana hampir 25 Milyar Rupiah.

Dengan dana sebanyak itu, konsorsium Dian Tama merumuskan dalam 4 kegiatan utama, yakni : (1) Peningkatan produktivitas HHBK dan Jasa lingkungan berkelanjutan ; melalui intervensi pengembangan madu, perikanan dan ekowisata, (2) Perbaikan praktik PSDA melalui penguatan kelembagaan masyarakat dalam pencegahan kebakaran hutan, penanaman, pengelolaan pengetahuan, pencegahan alih fungsi lahan, (3) Perbaikan praktik penggunaan lahan dengan mengembangkan pengelolaan pengetahuan tentang energi terbarukan, peningkatan produktivitas produk unggulan, pengelolaan destinasi ekowisata dan proteksi serta pencegahan kebakaran  hutan dan, (4) Penyediaan energy terbarukan berbasis masyarakat untuk mengurangi tingkat ketergantungan masyarakat terhadap BBM.

Kawasan kerja proyek merupakan bagian dari daerah tangkapan air DAS Kapuas dan Sub-DAS Leboyan/labian. Daerah tangkapan ini dinamai Upper Kapuas Basin, dimana wilayah proyek merupakan komplek hutan rawa dan sebagian hutan lahan kering dataran rendah. Hutan rawa memiliki 3 tipe, yaitu hutan rawa tinggi (tall), hutan rawa rendah (stunted) dan hutan rawa kerdil (dwaft). Sebagian hutan rawa tumbuh diatas tanah yang bergambut – hutan rawa gambut.

“Secara spesifik, Proyek dilaksanakan di lokasi berbasis area kerja periau di lima subsentra dan meliputi 86.000 hektar yang tersebar di 18 desa di tujuh kecamatan (Selimbau, Jongkong, Batang Lupar, Suhaid, Badau, Bunut Hilir dan Embaloh Hilir) yang di dalamnya terdapat kawasan hutan rawa gambut, area kerja periau dan nelayan serta wilayah kelola ekowisata,” demikian disebutkan oleh Irawan. (Ignatius Noreng)

LEAVE A REPLY