Tikung Ratu, Tikung Legendaris dari Ujung Said

0
270
Salah satu tikung yang bentuk ujungnya meruncing. Doc: Tim Konsorsium Dian Tama/Irwan

Ujung Said, swaraperiau.com – Petani madu atau sering disebut dengan Periau oleh masyarakat Kapuas Hulu, mereka para Periau dalam mendapatkan atau memperoleh madu, terdapat beberapa cara, yakni melalui Lalau, Repak dan Tikung. Lebih khusus pada Tikung, pada masyarakat Ujung Said dan Penepian Raya, terdapat sebuah cerita yang berkembang terkait Tikung ini, yakni Tikung Ratu. Pada masa itu, yakni pada zaman kerajaan, dimasa Tikung Ratu dibuat, pembuatan Tikung masih menggunakan kulit Kayu Emang, begitu juga Terenung (semacam wadah untuk menyimpan hasil panen) juga masih memakai kulit kayu, dan alat untuk memotong kepala lebah/beladau/pisau panen masih menggunakan kayu Belian (Ulin) yang dibuat menyerupai sendok, dan diruncingkan ujungnya.

Secara umum, Tikung oleh para Periau diartikan sebagai papan dari bahan kayu yang dibuat khusus dan dipasang di pohon-pohon sebagai dahan buatan untuk tempat lebah bersarang. Umumnya kayu yang digunakan adalah kayu Entangor Batu, Tembesu, dan, Medang.

Kamrus Arifin, salah satu Periau yang tergabung dalam kelompok Asosiasi Periau Mitra Penepian (APMP) menceritakan bahwa Tikung Ratu adalah tikung yang dibuat atas nama Ratu Suri. Tikung ini dibuat dari sebatang kayu tembesu yang dipotong dua. Sepotong dibuat tiang bendera dan sepotong nya lagi dibuat tikung, jumlahnya ada 6 buah tikung. “Tikung ratu dibuat oleh muyang utir. Muyang utir pada saat itu merupakan hulu balang kerajaan. Semenjak ratu suri meninggal dunia, tikung tersebut diturunkan kepada Muyang Utir, dari Muyang Utir diturunkan pada keturunannya yang bernama Muyang Yak’kub, kemudian kepada Datuk Yasin, selanjutkan kepada Salamin Syah, barulah diturunkan lagi kepada saya ,” lanjut Kamrus yang juga merupakan keturunan ke-5 yang mewarisi Tikung Ratu.

Boy Sandi, salah satu anggota kelompok APMP mengatakan bahwa, saat itu Tikung Ratu dibuat dan berada di wilayah kerajaan Ulak Lanau yang sekarang dikenal dengan nama Jongkong. saat itu hanya ada satu kelompok Periau yang juga berada di wilayah jongkong. Dari situlah cikal bakal bentuk dari tikung, dan dari situ juga yang awalnya satu kelompok Periau, hingga Kini menjadi 7 kelompok Periau, kemudian dibuatlah aturan-aturan adat terkait hal itu.

Kamrus menegaskan bahwa, Tikung Ratu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tikung-tikung yang lain, hanya saja karena umurnya yang sudah begitu tua dan sering digunakan dan telah banyak lebah yang bersarang di sana, sehingga tikung tersebut disukai lebah.

Pada Tikung Ratu, terdapat sebuah cerita mistis yang berkembang di masyarakat setempat. “Menurut cerita dan pengalaman nyata dari orang yang pernah mengalaminya, kadang ditikung suri ada dijumpai seekor ular besar yang biasanya berada di atas tikung tersebut, sehingga bila ingin panen/menyiangi tikung, selalu ada peringatan untuk berhati-hati saat panen madu,” lanjut Kamrus menceritakan saat Tim KM Konsorsium Dian Tama melakukan pertemuan kampung di Sub-Sentra APMP pada 14 Desember 2016 yang lalu. (Ben)

LEAVE A REPLY