Gunakan Drone Petakan Kawasan untuk Reaksi Cepat Cegah dan Atasi Karhutla

0
252
Warga Nanga Lauk saat mengikuti pelatihan mengenal drone, sebelum berlatih menerbangkan drone dilapangan terbuka untuk tujuan pengambilan data. Doc: Tim Konsorsium Dian Tama/Ignatius Noreng

Nanga Lauk, swaraperiau.com – Dimusim kemarau, daerah daratan disekitaran danau menjadi daerah rawan kebakaran, dikarenakan banyaknya dedaunan dan ranting kering, dan struktur tanah gambut yang mudah terbakar.Dalam kondisi kering, apapun yang ada disekitaran lokasi danau berpotensi menyebabkan kebakaran. Bisa karena manusia, juga bisa terjadi secara alami.Puntung rokok sekalipun dapat menyulut api, bahkan pergesekan ranting dan dedaunan bisa menimbulkan percikan api.

“Kebakaran besar pernah terjadi ditahun 1995, di Danau Kemati, berlokasi di Kerinan Melampam hingga  Suak Kompas Belabok, dengan luasan diperkirakan lebih dari 2KM2. Tidak ada yang mengukur dengan pasti berapa luasan sebenarnya dalam angka. Hingga saat ini, kawasan tersebut masih tetap menjadi daerah rawan api, yang pada musim kemarau, sewaktu-waktu bisa saja terjadi kebakaran”, papar Rusman, Kepala Desa Nanga Lauk, ketika bercerita kepada Tim Konsorsium Dian Tama dalam Assesment, Pemetaan potensi, luasan dan rekaman data kebakaran hutan dan lahan di Nanga Lauk pada 19 Februari 2017.

Hal senada juga disampaikan oleh Hamdi, ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa Lauk Bersatu. Kebakaran bisa disebabkan oleh kelalaian manusia, semisal ada oknum masyarakat dari luar yang datang berburu dan menyalakan api untuk memasak, namun ketika meninggalkan lokasi, lupa untuk mematikan, sehingga kemudian api membesar dan menyebabkan kebakaran.Ada juga faktor alam. Ada tumbuhan tertentu yang memang mudah menimbulkan percikan api ketika terjadi pergesekan.“Seperti jenis kayu Kawi, getahnya bisa menimbulkan percikan api ketika kering dan terjadi gesekan-gesekan yang kuat. Bisa juga disebabkan oleh sambaran petir,”jelas Hamdi.

Perak, Kepala Dusun Lauk Kanan, asal Kabupaten Sambas yang sudah lama menetap menjadi warga Nanga Lauk, juga turut menceritakan akan dampak Kebakaran yang dirasakan masyarakat. Ia mengatakan, secara umum ketika terjadi kebakaran pada tahun 1995, timbulnya berbagai macam penyakit, seperti  Sakit Saluran Pernapasan, asma, diare, dan mata perih.“Selain gangguan kesehatan juga berpengaruhterhadapkegiatan masyarakat sehari-hari. Cuaca yang berkabut membuat masyarakat sulit untuk beraktivitas, sehingga berpengaruh pula terhadap perekonomiam masyarakat”, tambah Perak.

Selain itu, dampak lain yang ditimbulkan dari kebakaran ialah tumbuhan bunga pakan lebah juga ikut terbakar, sehingga menyebabkan Lebah tidak datang selama lebih dari 2 tahun, dan sedikit banyak berpengaruh terhadap sumber penghasilan masyarakat yang sebagian besar adalah Periau/Petikung (petani madu tradisional).”Kayu hutan yang biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan bangunan, tidak bisa digunakan lagi karena habis terbakar,”ucap Jumadi AL Untung, Ketua Asosiasi Periau Nanga Lauk, menambahkan.

Saat terjadi kebakaran, masyarakat tidak bisa berbuat banyak. Selain akses menuju lokasi kebakaran yang jauh dari jangkauan masyarakat, juga dikarenakan tidak adanya peralatan yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk memadamkan api.“Masyarakat hanya pasrah saja, dimusim kemarau saat terjadinya kebakaran, jarak air dari lokasi kebakaran mencapai 10 KM,”papar Rusman, ketika mengenang peristiwa kebakaran yang pernah terjadi didaerahnya.

Guna mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, juga mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, masyarakat sudah membentuk Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) yang merupakan tim gabungan dari Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dan Aparatur Pemerintahan Desa, guna memantau dan mengawasi hal-hal yang berkaitan dengan perlindungan kawasan.

 

Masyarakat secara umum memiliki kepedulian untuk mencegah kawasan terbakar, namun masih terkendala pada sumberdaya dan peralatan.“Belum ada masyarakat yang memang dilatih khusus untuk menangani bahaya kebakaran, juga belum tersedia peralatan transportasi untuk reaksi cepat dan peralatan pemadam kebakaran,” tegas Rusman.

Untuk mencegah dan mengatasi bahaya yang terjadi dalam kawasan, khususnya bahaya kebakaran hutan dan lahan, diperlukan suatu protokol siaga. Ketika terjadi kebakaran, apa yang harus dilakukan, siapa yang melakukan, kepada siapa harus melapor.“Mekanisme tersebut perlu diatur dalam suatu protokol. Namanya SMART, system monitoring and evaluation. Untuk mempermudah berjalannya protokol, masyarakat perlu mengetahui seperti apa model, kontur, bentuk,gambaran wilayahnya. Untuk itu diperlukan peta kawasan,” papar Irwan Kurniawan, Project Officer Knowledge Management Konsorsium Dian Tama, saat menjelaskan kepada peserta pelatihan akan pentingnya peta kawasan dan kaitannya dengan protokol komunikasi mitigasi bencana kebakaran.

Dalam menghasilkan peta kawasan, diperlukan alat yang modern. Menyesuaikan kebutuhan dan perkembangan zaman, diadakan pelatihan bagi masyarakat untuk menggunakan drone, yaitu pesawat kendali tanpa awak yang akan digunakan untuk pengambilan data kawasan,  kemudian diolah menjadi sebuah peta.“Melalui peta, dapat diketahui seperti apa jalur sungai, danau, daratandan perairan yang ada, sehingga memudahkan akses darurat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,”Demikian dijelaskan oleh Dedi Erman Hasibuan, Analis dari Boneo Skycam.

Drone, adalah pesawat tanpa awak yang dapat dikendalikan dari jarak jauh melalui radio kontrol. Ada berbagai macam jenis drone. Drone yang digunakan adalah drone dari jenis Dji Phantom 4 dengan daya jelajah maksimal 3 KM, dengan batas ketinggian 120 M dan lama orbit lebih kurang sekitar 30 menit. Lama orbit tergantung dari variasi maneuver terbang, arus angin dan kesehatan perangkat, batrai dan berbagai macam aspek lainnya. (Ignatius Noreng)

LEAVE A REPLY