Pelestarian Alam Untuk Kehidupan yang Berkelanjutan

0
197
Peserta pelatihan antusias memperhatikan pemaparan materi dari fasilitator. Doc: Tim Konsorsium Dian Tama/Ignatius Noreng

Nanga Lauk, swaraperiau.com – “Ikan merupakan sumber daya yang sudah disediakan oleh alam dan boleh di kelola oleh masyarakat tanpa harus memiliki keahlian khusus. Ikan di Nanga Lauk sebagai mata pencaharian bagi masyarakat, terutama yang berprofesi sebagai nelayan. Sumber pengambilan ikan dari danau dan sungai. Hasil ikan yang di peroleh setiap musim pada kurun waktu ke waktu tidak mengalami penurunan, hanya pada tahun 2015 sempat ada penurunan hasil tangkapan di karenakan pemasangan Jelembar, Bubu Waren sampai ke daerah danau, sehingga ikan yang ada di danau menjadi berkurang,” Demikian  ungkap Rusman, Kepala Desa Nanga Lauk, disela-sela obrolan santainya dengan tim Konsorsium Dian Tama saat kegiatan Pelatihan sistem penjaminan mutu madu hutan dan pelatihan inspektor untuk inspektor internal di Nanga Lauk, Minggu, (5/2).

Selain ikan, madu hutan merupakan potensi unggulan di Nanga Lauk, yang setiap tahun rutin menghasilkan madu hutan curah, paling kurang 10 ton tiap musim panen, dan dari jumlah sebanyak itu, ada periau (petani madu tradisional) yang secara individu menghasilkan madu sebanyak 1 ton. “Sumber Lebah penghasil Madu di Nanga Lauk ada tiga, yakni Madu Lalau, Madu Tikung, dan Madu Repak,” jelas Rusman.

“Untuk keberlangsungan dan kelestarian Ikan, diatur dengan penggunaan Alat tangkap. Hanya boleh menggunakan Pancing, Rabai, Jelembar, Bubu Rotan, Bubu Tukung, Pengilar, Jala, Pukat, Semenak, Seruak, Bubu Waren, Bubu Besar, Serapang, Ntaban, dan Tabin/Taban,” tambah Rusman dengan fasih menyebutkan satu-persatu alat tangkap yang ada di wilayah desanya.

Rusman menegas bahwa, tidak boleh pakai tuba atau racun jenis apapun, bahkan setrum juga dilarang digunakan. “Dengan ke anekaragaman ikan yang ada di Nanga Lauk, ada beberapa jenis ikan yang di minati, yakni Baung, Belida, Toman, Biawan, Tengadak. Hasil tangkapan tersebut, selain di konsumsi, juga di olah menjadi bermacam-macam produk,” tambah Rusman.

“Produk akhir dari ikan yang ada di Nanga Lauk saat ini masih dalam bentuk Ikan Asin, Ikan Salai, Kerupuk Basah, Kerupuk Kering, Pekasam, Poja dan Rusit,” jelas Suasa, Ketua Kelompok Perempuan Nanga Lauk.

Dalam kegiatan Madu Hutan, kaum perempuan jarang yang terlibat aktif secara langsung dilapangan. Berbeda dalam praktek dalam perikanan. Apa yang dilakukan kaum pria, umumnya bisa juga dilakukan oleh kaum perempuan. Perempuan bisa menjala ikan, memasang pukat, memancing, bahkan ada yang bisa menyelam memasang bubu.

“Tidak ada masalah dalam pembagian peran di keluarga, kaum ibu tidak kalah dari kaum pria, yang penting saling berkomunikasi dan saling memahami peran antara suami isteri,” jelas Suasa.

“Sejauh ini tidak ada masalah berkenaan dengan aturan, baik perikanan dan kegiatan madu hutan, saya berani jamin semua warga saya paham akan pentingnya pelestarian alam untuk kehidupan kita kedepan, untuk hidup yang lebih baik, sehat dan berkelanjutan,” demikian tutur Rusman. (Ignatius Noreng)

LEAVE A REPLY