Nanga Lauk: Sebuah Catatan Perjalanan

0
363
Bantaran sungai di perkampungan Nanga Lauk. Doc: Tim Konsorsium Dian Tama/Ignatius Noreng

Nanga Lauk, swaraperiau.com – Hari menjelang senja, awan gelap bergayutan di langit, angin sepoi-sepoi mengandung air gerimis menyambut ramah, saat kami tiba di Nanga Nyabau, perkampungan yang menjadi titik pertama awal perjalanan kami menyisir Sungai Apalin ke hilir, menuju Desa Nanga Lauk, perkampungan nelayan nan penuh cerita nostalgia. Penunjuk waktu yang saya kenakan di pegelangan tangan kiri menunjukkan pukul 16.50 WIB, Kamis (08/09). Pak Hamdi, ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Nanga Lauk, yang pada saat itu menjadi motoris untuk sampan yang akan kami tumpangi, mengarahkan kami untuk menumpuk barang bawaan di salah satu sampan yang akan kami tumpangi menuju Desa Nanga Lauk, perkampungan nelayan di bantaran sungai Apalin yang menjadi tujuan rombongan Millennium Challenge Account – Indonesia (MCA-Indonesia) Konsorsium Dian Tama dalam rangka mendampingi Konsultan untuk mengadakan  Feasibility Study Reneweble Energy (FS RE).

Melintasi jalur Sungai Apalin, Sampan, masih menjadi moda transportasi utama andalan masyarakat dari dan menuju Desa Nanga Lauk untuk mencapai daerah satelit terdekat, mengingat belum adanya jalur jalan raya mengakses daerah Desa Nanga Lauk. Tak terkecuali kami, rombongan MCA-Indonesia, yang pada perjalanan kali ini menggunakan dua unit sampan bermotor berkekuatan 15 Horse Power berkapasitas 10 orang per sampan.
“Jalan raya masih dalam proses, jika tidak ada halangan, kemungkinan tahun 2017 akses jalan ke Nanga Lauk dari Nanga Nyabau ini akan di buka”, ucap Hamdi, sambil menyusun barang bawaan kami ke dalam sampan.

Selang beberapa menit setelah kami meninggalkan Nanga Nyabau, hujan turun dengan derasnya. Beruntung, sebelumnya atas arahan Pak Hamdi, barang bawaan sudah kami tumpuk di salah satu sampan dan di bungkus terpal agar tak basah di guyur hujan. Hujan, rasa dingin, dan riak air sungai, berpadu menjadi harmoni alam yang mengiring sepanjang perjalanan.

“Hujan itu pertanda bahwa kedatangan kita di sambut baik oleh alam, secara filosofis, hujan itu anugerah”, celetuk Raimundus, Field Manager (FM) Site 1 DAS Kapuas, Proyek MCA-Indonesia Konsorsium Dian Tama, yang ikut serta dalam rombongan, dan kebetulan satu sampan dengan Saya.

“Hujan itu rezeki, semoga kita dapat banyak rezeki yang baik di Nanga Lauk”, tambah pria yang akrab di sapa Urai, sambil membetulkan letak jas hujan yang Ia kenakan.
Secara administrasi, Desa Nanga Lauk tercatat di dalam wilayah Kecamatan Embaloh Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Dengan bentang alam kombinasi wilayah perairan dan dataran, dimana wilayah perairan nya merupakan Sub DAS Apalin yang merupakan anak sungai dari DAS Kapuas.

Sepanjang perjalanan, ingatan Saya kembali bernostalgia ke masa beberapa tahun silam. Perjalanan menyusuri Sungai Apalin bukanlah hal baru bagi Saya. Di tahun 1990an, saat Saya masih berstatus siswa Sekolah Dasar,  keluarga Saya masih bermukim di daerah Danau Jaong. Saya sering melintas Sungai Apalin sampai ke Nanga Bunut untuk berjualan sayur dan buah-buahan hasil perkebunan bersama Kakek. Karena berbagai faktor, utamanya faktor keluarga yang tak lagi bermukim di Danau Jaong, sekian tahun kemudian Saya tak pernah lagi melintasi Sungai Apalin.

Setelah sekian tahun tidak lagi melintas Sungai Apalin, Perjalanan kali ini, Saya merasa kembali ke masa kecil. Saat itu, sepanjang bantaran sungai masih sering terlihat kera ekor panjang yang dalam bahasa setempat di sebut Rancung (Macaca Fascicularis) bergelantungan di pohon pinggiran sungai. Bahkan tak jarang pula kami temui burung Elang Gondol (Haliastur Indus) dan Bangau Putih (Egretta Garzetta) bertengger di dataran sepanjang pinggiran Sungai Apalin, yang pada perjalanan kali ini tak satu pun yang Saya temui. Namun ingatan yang masih melekat, adalah eksotisme perkampungan nelayan Nanga Lauk. Khas dengan lanting (bangunan terapung) yang berjejer di sepanjang bantaran sungai, sepanjang perkampungan Nanga Lauk membuat Saya tak sabar ingin segera tiba di perkampungan nan penuh cerita, Desa Nanga Lauk.

Perubahan paradigma pembangunan kehutanan yang mengarah pada pendekatan berbasis masyarakat atau dikenal dengan istilah Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) merupakan angin segar bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, tak terkecuali bagi masyarakat Desa Nanga Lauk. Sejak tahun 1970 di sepanjang aliran Sungai Kapuas, Sungai Embaloh dan Sungai Apalin kegiatan penebangan kayu sudah berjalan, khususnya di daerah Kecamatan Embaloh Hilir dan daerah sekitarnya. Saat ini, hampir di sepanjang sungai Apalin dan sungai-sungai di sekitar Desa Nanga Lauk, pada musim kemarau, masih dapat kita jumpai sisa-sisa kayu peninggalan masa pembalakan yang di biarkan berserakan di pinggir sungai, bahkan ada juga yang sudah tertimbun oleh tanah, mungkin itu adalah salah satu yang menjadi alasan kenapa Rancung, Elang Gondol dan Bangau Putih tak terlihat sepanjang perjalanan.

Perjalanan kami sesekali sempat terhenti karena mesin perahu yang kami tumpangi kipas nya menabrak kayu yang terbenam di dalam sungai. Hari sudah mulai gelap, hujan masih turun dengan deras nya. Lampu senter mulai di nyalakan untuk memandu juru mudi mengarahkan perahu agar tak salah jalur.

Theodorus, Organizer Nanga Lauk untuk MCA-Indonesia konsorsium Dian Tama, yang di daulat menjadi navigator dadakan saat itu, terlihat sibuk mengarahkan lampu senter ke haluan perahu. Ia menjadi pemandu bagi juru mudi untuk mengarahkan kemana arah haluan sampan menuju. “Aku ndak tau  kemana jalur perahu, aku Cuma nyenter jak ya”, teriak nya dari haluan sampan, memberi peringatan kepada juru mudi agar tak sepenuhnya mengikuti arahan lampu senter yang Ia sorotkan ke haluan.

Menempuh perjalanan bersampan menghilir sungai Apalin selama 1 jam 40 menit, mulai terlihat kelip-kelip lampu di kejauhan, pertanda sudah memasuki pemukiman penduduk. Kami tiba di Desa Nanga Lauk pukul 18.30 WIB, hari sudah gelap dan hujan turun semakin bertambah lebat. Atas arahan Pak Hamdi, kami langsung menuju rumah Pak Sudirman, tempat dimana kami, rombongan MCA-Indonesia Konsorsium Dian Tama, akan menginap. Tiba di rumah Pak Sudirman, terlihat wajah-wajah girang anggota rombongan. Masing-masing sibuk dengan keperluan pribadi, ada yang berganti pakaian, membongkar barang bawaan, dan lain sebagainya.

Masuk ke dalam rumah Pak Sudirman, sudah ada berkumpul beberapa warga Desa Nanga Lauk yang rupanya dengan sengaja menunggu kedatangan kami. Perbincangan hangat mulai mengalir, seiring dengan gepulan asap tipis dari gelas-gelas berisi kopi panas yang di hidangkan tuan rumah. Rasa dingin akibat di guyur hujan sepanjang perjalanan pun tak terasa, hilang tergantikan dengan keramahan tutur sapa dan cerita warga-warga Desa Nanga Lauk.

Berbagai hal disampaikan. Tentang harapan dan mimpi warga desa Nanga Lauk dalam menyambut kedatangan kami, tim MCA-Indonesia Konsorsium Dian Tama, yang sedianya nanti kedepan nya akan mendampingi warga Desa Nanga Lauk untuk tetap bertahan dalam kearifan lokal nya mengelola segala potensi yang ada di dalam Desa Nanga Lauk.
Dalam perbincangan hangat penuh kekeluargaan, kami saling bertukar cerita. Tentang musim kemarau, harga karet, orang-orang luar negeri, orang-orang dari Jakarta, panen, madu, danau, ikan dan tentu saja tentang program kemakmuran hijau yang akan di kerjakan oleh tim MCA-Indonesia Konsorsium Dian Tama di Nanga Lauk.

Malam semakin larut, hujan masih menyisakan rintik-rintik kecil. Satu persatu warga yang tadi berkumpul pamit undur diri, kembali pulang kerumah masing-masing, meninggalkan kami yang masing-masing dalam pikiran masih berkutat dengan persoalan masing-masing. Saya berbaring merebahkan tubuh di samping Raimundus yang sudah lebih dahulu tidur. Perlahan memejamkan mata, saya masih terbayang kenangan masa kanak-kanak sekian tahun silam; warga Nanga Lauk dengan ramah menawar sayur dan buah-buahan yang saya dagangkan. Dan hari ini saya kembali ke sini, mereka tetap ramah, sama seperti ketika saya masih kanak-kanak, pertanda tempat ini akan tetap menjadi rumah jika kelak saya kembali. (Ignatius Noreng)

LEAVE A REPLY