Membangun Kapuas Hulu Melalui Madu, Ikan dan Ekowisata, Mitra Konsorsium Dian Tama adakan Kajian Awal

0
187

Putussibau, swaraperiau.com – Millennium Challenge Corporation (MCC) melalui Millennium Challenge Account – Indonesia (MCA-Indonesia) gelontorkan dana milyaran rupiah untuk Pengelolaan Sumber Daya Alam Hutan Rawa Gambut dan Pemanfaatan Energi Terbarukan berbasis masyarakat untuk Meningkatkan Produktivitas Produk Unggulan Masyarakat di Kabupaten Kapuas Hulu. Bertempat di Aula Losmen Merpati, Putussibau, tujuh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pelaksana program, yang tergabung dalam konsorsium Dian Tama, adakan penyusunan rencana kajian awal bersama dengan kelompok sub sentra penerima manfaat (07/09).

Proyek MCA-Indonesia ini berjudul Pengelolaan Sumber Daya Alam Hutan Rawa Gambut dan Pemanfaatan Energi Terbarukan untuk Meningkatkan Produktivitas Produk Unggulan Masyarakat di Kabupaten Kapuas Hulu, atau lebih mudah menyebutnya dengan istilah Proyek Kemakmuran Hijau. Adapun yang menjadi muatan dalam kegiatan nya adalah pemanfaatan energi terbarukan berkenaan dengan pengelolaan madu, ikan dan pengembangan ekowisata.

Pelaksana proyek kemakmuran hijau ini terdiri atas tujuh lembaga, yakni Yayasan Dian Tama (YDT) sebagai leader konsorsium, WWF Indonesia, Perkumpulan Kaban, Koperasi Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS), Lembaga Pengkajian dan Studi Arus Informasi Regional (LPS-AIR), Yayasan Riak Bumi Indonesia, dan Komunitas Pariwisata Kapuas Hulu (KOMPAKH), yang membentuk satu konsorsium, dengan nama Konsorsium Dian Tama.

“Proyek kemakmuran hijau ini merupakan perpanjangan kesinambungan yang tak terpisahkan dari kegiatan sebelumnya yakni Tropical Forest Conservation Act (TFCA), ada tujuh lembaga yang tergabung, membentuk satu konsorsium dengan leader Yayasan Dian Tama,” ucap Raimundus, pria yang lebih karab disapa Urai, Field Manager (FM) Site2 DAS Kapuas, yang pagi itu di daulat menjadi pemandu acara, memberikan penjelasan tentang kegiatan proyek. “Jika sebelumnya di TFCA kegiatan nya hanya seputar madu, pada proyek kemakmuran hijau ini di tambah dengan ikan dan ekowisata,” tambah Urai.
Proyek kemakmuran hijau bertujuan membantu masyarakat di sub sentra dalam upaya meningkatkan produktivitas produk unggulan nya, dalam hal ini madu, ikan dan ekowisata. Akan ada pembangunan rumah produksi madu dan ikan di tiap sub sentra, dan rumah produksi tersebut sedianya akan dilengkapi pembangkit listrik tenaga surya sebagai sumber tenaga listrik nya.

“Tidak ada yang asing dalam kegiatan proyek kemakmuran hijau ini, sebelumnya kita sudah familiar dengan madu, sekarang tinggal di tambah dengan ikan dan ekowisata, dan ditambah personil baru, baik orang dan lembaga nya, yakni LPS-AIR dan KOMPAKH, selebihnya adalah pernah tergabung di dalam tim TFCA sebelum proyek ini,” papar Urai ketika menjelaskan komposisi tim dan kegiatan proyek.
Sebelum melaksanakan kegiatan proyek, MCC melalui MCA-Indonesia meminta kepada konsorsium untuk menyediakan dokumen kajian awal uji kelayakan, berkenaan dengan apakah layak atau tidak proyek kemakmuran hijau ini di laksanakan di sub sentra penerima manfaat di maksud.

Ada lima kajian yang harus di sediakan konsorsium. Yang pertama, kajian berkenaan dengan Knowledge Managemen atau pengetahuan, dimana pengetahuan harus terkelola, terdokumentasi, terdistribusi, terpublikasi, terwariskan, dan bisa dipergunakan oleh orang lain.Kajian kedua adalah Social and Gender Integration Plan(SGIP) atau Rencana Integrasi Sosialdan Gender guna memastikan integrasi sosialdan gender kedalam semua proyek dan kegiatan. Kajian ketiga berkenaan dengan Landscape Lifescape and Analisis (LLA), yakni kajian bentangan alam dan kehidupan bermasyarakat sebagai dampak dari adanya proyek kemakmuran hijau. Kajian ke empat dalah Environmental and Social Management System (ESMS), berupa kajian manajemen pengelolaan lingkungan dan sosial kemasyarakatan sebagai dampak di laksanakan nya proyek kemakmuran hijau di sub sentra, apakah berpotensi konflik, berdampak negatif dan berbagai hal lain yang berhubungan dengan kehidupan sosial bernasyarakat. Kajian kelima berhubungan dengan pemanfaatan energi terbarukan atau Reneweble Energy (RE), berkenaan dengan pembangunan rumah produksi, apakah di mungkinkan untuk pemanfaatan energi terbarukan sebagai sumber pembangkit listriknya. MCC melalui MCA-Indonesia menghendaki pemanfaatan energi terbarukanuntuk menghindari buangan emisi sebagai akibat proses produksi dan supaya sumber energi tetap ada sehingga segala sumber daya yang ada di sekitar nya tetap terjaga.

“Penyusunan rencana kajian awal dimaksudkan agar sub sentra yang menjadi sasaran kegiatan mengetahui apa kegiatan nya, siapa pelaksana dan penerima manfaat, bagaimana pelaksanaan nya, bahkan pelaporan dan tanggung jawab nya seperti apa, sub sentra sasaran harus tahu, juga berkenaan dengan dokumen kajian, jika kita tidak bisa menyediakan dokumen kajian tersebut, maka proyek ini gagal, karena MCC melalui MCA-Indonesia tidak akan membiayai semua kegiatan kita,” papar Thomas Irawan Sihombing atau yang lebih akrab di sapa Irawan, selaku Project Manager (PM) untuk proyek kemakmuran hijau MCA-Indonesia konsorsium Dian Tama, saat memberikan sambutan singkat berkenaan dengan kegiatan yang sedang berlangsung.

Ada lima sub sentra asosiasi penerima manfaat yang menjadi sasaran dalam proyek kemakmuran hijau ini, yakni Sub Sentra Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS), Asosiasi Periau Muara Belitung (APMB), Asosiasi Periau Mitra Penepian (APMP), Asosiasi Petikung Bunut Singkar (APBS), dan Asosiasi Periau Nanga Lauk (APNL). Di samping lima sub sentra asosiasi periau yang akan mendapat pendampingan secara khusus berkenaan dengan pengelolaan madu dan inovasi produksi berbahan dasar ikan, juga ada tiga kelompok ekowisata yang menjadi side project yakni Kelompok Ekowisata di Semangit, Pelaik dan Meliau. Dimana masing-masing sub sentra akan mendapat pendampingan secara khusus dari tim-tim ahli untuk peningkatan kapasitas, baik produksi, kualitas, kuantitas, dan berbagai hal yang diperlukan dalam hal pengelolaan madu, ikan, dan ekowisata.
“MCC melalui MCA-Indonesia, ingin membantu pemerintah membangun Kabupaten Kapuas Hulu, dan akan memberikan pendanaan dalam bentuk peralatan dan rumah produksi ke setiap masing-masing sub sentra, yang mana di tiap sub sentra nantinya akan memiliki rumah produksi yang di lengkapi dengan panel surya sebagai pembangkit tenaga listrik nya,” jelas Irawan memberikan gambaran tentang kegiatan proyek yang akan dilaksanakan.
“Setelah proyek ini selesai, akan ada aset senilai lebih kurang 7 milyar rupiah, yang mana aset tersebut akan menjadi milik sub sentra, dan akan di serahkan tim proyek konsorsium kepada sub sentra melalui Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun-Danau Sentarum (BBTNBK-DS). Tak kalah penting untuk di ketahui, semua proses yang berjalan selama proyek berlangsung bahkan semua hasil dari kegiatan, itu semua bersifat hibah, yang artinya di berikan Cuma-cuma, gratis dan tidak akan di tarik kembali,” tegas Irawan. (Ignatius Noreng)

LEAVE A REPLY