Kawasan Hutan Dilindungi, Lebah Banyak Bersarang

0
333
Salah satu pohon lalau yang telah disarangi lebah madu hutan. Doc: Tim Konsorsium Dian Tama/Irwan Kurniawan

Nanga Lauk, swaraperiau.com – Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir Kabupaten Kapuas Hulu mempunyai bentangan alam yang masih sangat bagus. Hutan dan danau yang ada dikawasan Desa Nanga Lauk yang masih terjaga memberikan nilai ekonomi tersendiri bagi masyarakat Nanga Lauk.

Proteksi terhadap kawasan hutan dan danau yang telah di jaga warga desa Nanga Lauk menyebabkan desa ini setiap tahunnya mendapatkan penen madu dan ikannya melimpah, hingga puluha ton. Seperti halnya yang dicerikan oleh Rusman selaku Kepala Desa Nanga Lauk. Ia memaparkan bahwa, di Desa Nanga Lauk  rata-rata madu yang dihasilkan berkisar 10 ton. Paling banyak pada tahun 2014 mencapai 17 ton dan masyarakat  Panen dalam satu tahunnya dua kali Januari dan Juli.

Petani madu atau Periau di Desa Nanga Lauk ada 39 kelompok, salah satu proses pelestarian terhadap lebah yaitu memasang tikung. Tikung adalah  salah satu tempat untuk lebah bersarang yang mana kayu yang menjadi tikung ini ujungnya di cangkahi untuk menempelkannya di dahan kayu.

“Tikung ini dibuat oleh warga desa Nanga Lauk. Satu orang kadang mempunyai tikung seratus buah atau bahkan lebih. Adapun kayu yang cocok untuk di jadikan tikung dalam artian disukai lebah dan lebah tersebut akan bersarang adalah jenis kayu Medang Tatung, Medang semat dan Medang danau,” kata Usman saat Tim Konsorsium Dian Tama melakukan pertemuan kampung pada 11 Desember 2016 lalu.

Pemasangan tikung yang baik lanjut Usman biasanya di pasang di tempat yang rendah, sedang dan tinggi, tiga jenis pemasangan ini tergantung si pemasang tikung untuk mencari perhatian lebah agar tikung tersebut disarangi.

“Namun kebanyakan masyarakat Nanga Lauk memasang tikung dengan ketinggian sedang. Alasannya kalau air pasang tidak kena air dan kalau ketinggian nanti  tidak susah memanennya,” kata Usman.

Sedangkan pemasangan tikung yang baik itu harus gelap disekitar lebah yang mau dihinggapinya. Hal itu  agar lebah merasa aman dari serangan mangsanya seperti Elang, Orangutan. Selain itu, tikung yang baik bagian bawahnya harus lapang dan bersih dari cabang-cabang pohon lainnya.

“Model-model tikung bermacam-macam, tergantung pembuatnya tapi kebanyakan warga Nanga Lauk membuat dengan ukuran 1,5 sampai 2 meter panjang tikung tersebut,” kata Usman.

Selain hinggap di tikung kadang lebah hinggap di kayu besar dan tinggi dan jumlah sarangnya pun puluhan hingga ratusan sarang. Beda halnya dengan tikung yang hanya satu sarang. Lebah yang bersarang di kayu yang tinggi dan besar ini dinamai masyarakat dengan sarang lebah Lalau.

Asmadi, salah satu masyarakat Nanga Lauk menjelaskan, lalau adalah sarang lebah yang bersarang di pohon yang sangat tinggi. Kemudian dalam satu pohon tersebut banyak sekali sarang lebahnya dan hampir setiap dahan ada sarangnya. Namun di desa Nanga Lauk, lalau agak jarang ditemui, sesekali ada juga ditemukan. Untuk memanen lalau harus orang yang mempunyai keberain yang tinggi, hasil penen dari lalau lebih banyak madunya dari tikung. selain itu harus bertimang. Bertimang adalah melapaskan mantara agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan. Kemudian tidak semua kayu akan dihinggapi lalau. Kayu-kayu yang dihinggapi lalau diantaranya Cempedak, Kempas, Pelaek dan Kayu ara.

“Satu pohon yang besar, kadang lalaunya sampai 40-50 sarang dan sarang lalau bisa di jual ke orang lain. Kisaran pemilik lalau menjual lalaunya tergantung banyaknya sarang dan kondisi pohon. Kisaran harganya 4 sampai 5 juta. Namun harga tersebut tidak menjadi patokan semua itu tergantung lalaunya,” kata Asmadi yang juga pernah membeli sarang lalau.

Setelah tikung dan lalau ada satu lagi jenis sarang lebah yang masyarakat Kapuas Hulu sebut dengan repak. Repak adalah lebah yang hinggap di dahan kayu dan bukan dipelihara mirip lalau tapi sarangnya satu  sampai dua saja sarangnya.

“Repak juga tidak semua jenis kayu dihinggapinya ada jenis-jenis kayu tertentu. Kayu-kayu tersebut ialah, Putat, Empaek dan Tengkurung,” tambah Asmadi.

Proses dari pengambilan madu pada dasarnya sama dengan tikung. Hanya saja pengambilan madu pada jenis sarang lalau perlu keahliah khusus dan tidak semua orang bisa mengambilnya. Kemudian  cara lebah meninggap di repak tidak sembarangan. Untuk mengetahui apakah repak itu sudah ada madu atau tidak, ada hal-hal yang harus diperhatikan. Salah satu tandanya adalah kalau sudah terjuntai ke bawah, berarti repak itu sudah lama dan pasti sudah ada madunya. Kemudian kalau satu sampai dua jam tengah sarang lebah berlubang dan belum diisi induk-induk lainnya. Dan ketika dalam jangka waktu itu sudah di isi maka lebah itu akan bertahan lama. (fatur Birri)

LEAVE A REPLY