Jaga Kawasan Hutan Melalui Peraturan Adat

0
172
Tim Konsorsium Dian Tama melakukan Sosialisasi hasil studi kelayakan teknis pembangunan sarana prasarana dasar ekowisata di Meliau. Doc: Tim Konsorsium Dian Tama/Ignatius Noreng

Meliau, swaraperiau.com – Meliau merupakan salah satu Dusun di Desa Melemba, yang secara administratif berada di Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Letak Dusun Meliau berjauhan dari dua dusun lainnya, yakni Dusun Manggin dan Dusun Sungai Pelaik. Karena letaknya yang berjauhan, Meliau hanyalah perkampungan kecil dan sepi, tanpa listrik PLN dan signal, sehingga untuk memenuhi kebutuhan penerangan, masyarakat mengandalkan solar cell, dan mesin listrik sendiri, yang keduanya merupakan bantuan yang diterima oleh masyarakat.

Karena tak ada signal, bila mana ada tamu yang akan berkunjung, biasanya seminggu sebelum kedatangannya harus diberitahukan terlebih dahulu. “Biasanya kita sepakat, kalau memang ada tamu, atau wisatawan yang akan berkunjung, jauh-jauh hari sudah diberitahukan terlebih dahulu, paling tidak seminggu sebelumnya. Biasanya yang menjadi masalah adalah yang datangnya dadakan, jadi agak kewalahan kita, mau tak maulah mereka ngantar tamu itu sampai kesini,” ujar Antonius Rimau, Sekdes Melemba, diwawancarai saat Tim Konsorsium Dian Tama melakukan Sosialisasi hasil studi kelayakan teknis pembangunan sarana prasarana dasar ekowisata di Meliau pada 19 Desember 2016 lalu.

Dusun Meliau terletak di tepian sungai Meliau yang berada di luar kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TNBKDS).Untuk pergi ke Desa Melemba, dari Kota Putusibau dengan menggunakan transportasi darat menuju wilayah Kecamatan Lanjak terlebih dahulu, dengan waktu perjalanan sekitar 2 jam. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan transportasi air menggunakan speedboard atau longboard , yakni dari Kecamatan Lanjak menuju Desa Melemba dengan waktu tempuh kira-kira 2 jam perjalanan apabila musim hujan dan akan lebih lama bila musim kemarau tiba, dibutuhkan 5-6 jam perjalanan, karena jalurnya yang memutar.

Masyarakatnya Meliau adalah keturunan suku dayak Iban yang tinggal di Rumah Betang atau biasa disebut juga Rumah Panjang. Sedikitnya ada belasan kepala keluarga yang menetap dan tinggal di rumah yang mempunyai 12 pintu ini. Rumah betang ini juga biasanya dijadikan homestay bagi tamu dan turis asing maupun lokal yang datang berkunjung.

Mata Pencaharian masyarakat Dusun Meliau sebagian besar adalah nelayan sungai dan danau. Selain itu ada juga petani madu (periau) repak, lalau dan tikung, berladang dan petani karet yang biasanya dilakoni sebagian besar oleh kaum ibu.

Di Meliau terdapat satu bukit yang dikenal dengan nama Bukit Peninjau. Bukit Peninjau bisa dikatakan sebagai jantungnya Dusun Meliau. Bukit Peninjau merupakan pemasok sumber air bersih bagi masyarakatnya. Air bersih mengalir melalui anak-anak sungai yang terbentuk secara alami. Selain adanya anak sungai yang terbentuk secara alami, sekarang sudah ada pipa-pipa yang dipasang dan dialirkan langsung kerumah. Sehingga untuk kebutuhan sehari-hari, masyarakat juga menggunakan air tersebut. Berbeda halnya sebelum pipa-pipa itu ada, untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat menggunakan air sungai meliau. “Semenjak adanya sumber air bersih yang disalurkan melalui pipa itu, segala aktivitas seperti cuci, mandi dan buang hajat diatas semua (di WC), tidak ada lagi yang buang hajat di sungai,” papar Antonius Rimau, yang akrab disapa Rimau ini.

Lanjut Rimau, dulunya Bukit Peninjau itu tempat orang beladang, yang dilakukan di kaki bukit, tetapi sekarang tidak lagi.”Terjaganya hutan yang juga merupakan sumber air kita itu, karena adanya kesadaran masyarakat. Kesadaran masyarakat muncul, berkaca dari pengalaman masa lalu, dan kita-kita ini berjalan melihat desa-desa lainnya,” tegas Rimau.

Rimau menjelaskan, untuk memastikan bukit ini tetap terjaga, disamping adanya aturan pemerintah, juga ada aturan adat, serta kita juga menjadikan Bukit Peninjau sebagai bagian dari hutan adat dusun, dan menjadikan bukit peninjau sebagai pusat ekowisata dusun kita ini. Disana sudah ada jalur tracking dan menariknya terdapat hewan-hewan yang dilindungi, seperti orang utan, bekantan, burung ruai, kelasi dan enggang. Oleh karenanya, disana dijadikan sebagai tempat pengamatan satwa.

Selain melalui pengembangan ekowisata, untuk mempertahankan hutan tetap lestari, terdapat juga aturan adat terkait wilayah untuk kebutuhan bahan bangunan. Untuk itu, masyarakat mengambil kayu di hulu sungai, yakni di hulu sungai Melemba. “Di sana adalah kawasa bebas, bukan dikawasan taman nasional, bukan juga kawasan hutan lindung. Dalam mengambil kayu juga ada aturannya tidaklah sebebas-bebasnya, yakni boleh mengambil kayu, hanya untuk kebutuhan masyarakat disini, tidak boleh untuk dijual keluar. Tujuan agar hutan kita juga tetap terjaga. Kalau diperbolehkan nanti kayu disini bisa-bisa habis,” papar Rimau.

Desa Melemba, terutama Dusun Meliau, selain punya panorama alam yang menarik dengan hewan-hewan langka yang dimilikinya, Meliau juga punya ikan yang berlimpah, baik itu di danau maupun yang ada di sungai. Baik di Meliau maupun dua dusun lainnya, dikenal istilah panen lestari untuk ikan. Panen lestari dimaksudkan untuk menjaga kelestarian ikan. Terdapat aturan-aturan dalam melakukan panen ikan, terutama ukuran ikan dan jenis alat tangkap yang digunakan untuk panen ikan. “Alat tangkap yang bisa dipakai yakni jala, bubu dari rotan, pancing, dan rabai. Untuk alat tangkap yang dilarang digunakan diantaranya pukat, penilar, jeremal dan bubu warin. Ukuran yang dibolehkan untuk alat tangkap ikan yakni 1 ¾ inchi,” ucap Rimau.

Rimau menjelaskan, panen lestari dilakukan 1 kali dalam 1 tahun. Sebelum panen dilakukan, bila telah memasuki bulan kemarau masyarakat mulai memasang bubu di danau. Ketika air mulai menggenangi bubu yang telah dipasang, berlakulah aturan adat nelayan yang ditetapkan oleh ketua nelayan. Dimana bila bubu telah terendam air, segala aktivitas di danau yang dipasangi bubu dilarang diganggu, termasuk memancing. Dikatakan bahwa saat itu masanya ikan memijah. Sehingga tiba waktunya ketua nelayan akan mengumumkan bahwa ikan telah siap untuk dipanen.

Untuk memastikan hukum adat dilaksanakan dengan baik, Rimau menegaskan bahwa, masyarakat Dusun Meliau ada semacamTim Patroli yang melakukan pengawasaan dan peninjauan. Tim patroli berasal dari kelompok nelayan, begitu juga dengan hutan adat, juga ada tim patrolinya. (Ben)

LEAVE A REPLY